Saya pernah membaca artikel tentang efek samping obat dan cara minum obat yang benar. Dikatakan bahwa obat-obat tertentu tidak boleh diminum bersama-sama karena dapat terjadi interaksi di antara keduanya. Juga ada beberapa obat yang tidak boleh diminum dengan air jeruk atau jus buah. Namun yang jadi pertanyaan bagi saya adalah minum obat yang dicampur susu pada bayi dan anak-anak.
Kedua anak saya selalu sulit minum obat apabila sedang sakit, terutama sirup antibiotik yang pada umumnya pahit, biasanya ia jadi muntah dan batuk-batuk. Saya justru takut obat tersebut masuk ke paru-parunya. Pernah suatu hari saya mencampur obat tersebut dengan susu dan saya berhasil meminumkannya. Tapi saya khawatir, apakah ini tidak berbahaya untuknya?
(Ferdy, 30 tahun, karyawan, Bekasi)
Jawaban:
Dalam meresepkan obat, dokter pastinya telah memberi petunjuk baik secara lisan maupun tulisan kepada anda mengenai dosis, cara minum, efek samping, dan lain-lain. Ini semua bertujuan agar penyerapan obat tidak terganggu dan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Secara umum, obat-obat yang bersifat asam diminum sesudah makan agar tidak mengiritasi lambung, misalnya paracetamol dan obat penghilang nyeri. Ada juga obat yang harus diminum sebelum makan agar penyerapannya tidak terganggu oleh makanan, misalnya antibiotik amoksisilin/ampisilin. Obat tidur dan obat cacing sebaiknya diminum sebelum tidur.
Beberapa obat tidak boleh dicampur dengan susu karena dapat terjadi perubahan pada susunan kimia obat yang pada akhirnya dapat membahayakan pasien atau menimbulkan efek yang merugikan bagi tubuh. Obat asam apabila dicampur susu maka akan menggumpal sehingga obat tersebut tidak efektif lagi. Tetrasiklin dan doksisiklin adalah antibiotik yang tidak boleh diminum bersama susu, karena akan mengganggu penyerapannya.
Sekali lagi, apabila anda menerima resep dari dokter, maupun menerima obat dari apotek, pastikan anda telah mendapat penjelasan selengkap-lengkapnya atas obat tersebut.
Salam.
Tampilkan postingan dengan label Penggunaan Obat-Obatan Dan Pengaruhnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penggunaan Obat-Obatan Dan Pengaruhnya. Tampilkan semua postingan
Minggu, 06 November 2011
Rabu, 26 Oktober 2011
Bagaimana Cara Penggunaan Obat Antibiotika
Dokter memberikan resep antibiotika kepada anak kami setelah kami memeriksakan penyakitnya. Pertanyaan kami, apakah obat antibiotika yang diberika oleh dokter tersebut harus dihabiskan sebagaimana yang tertulis jumlahnya dalam resep sekalipun penyakitnya sudah sembuh?
Jawaban:
Dalam mengobati penyakit, secara umum dokter memberikan 2 macam pengobatan, yaitu:
Jawaban:
Dalam mengobati penyakit, secara umum dokter memberikan 2 macam pengobatan, yaitu:
- Pengobatan untuk menghilangkan penyebab penyakit misalnya: infeksi diberi obat antibiotika untuk membunuh kuman penyebabnya, penyakit kanker dilakukan operasi untuk mengangkat kanker tersebut dan sebagainya.
- Pengobatan untuk menghilangkan atau mengurangi gejala penyakit misalnya gejala panas diberi obat penurun panas, sakit kepala diberi obat penghilang sakit kepala, lemah diberi vitamin dan sebagainya.
Pada penyakit infeksi, untuk membunuh kumannya perlu diberikan antibiotika tertentu dengan dosis dan jangka waktu pemberian yang tertentu pula. Dalam menulis resep, dokter telah memperhitungkan jumlah antibiotika yang diperlukan. Apabila diperkirakan dengan pemberian antibiotika tersebut penyakitnya belum sembuh biasanya dokter anak menyuruh pasiennya untuk kembali lagi setelah obatnya habis.
Setelah minum obat 2 - 3 hari pasien merasa penyakitnya sembuh karena sudah tidak panas atau tidak pusing bukan berarti penyakitnya sudah sembuh dengan benar dan tuntas. Hilangnya gejala panas dan pusing tersebut dapat disebabkan obat anti panas atau anti pusing disamping antibiotika itu sendiri atau sebagian kuman telah mati sehingga tidak menyebabkan gejala-gejala tersebut. Sebagian kuman mati artinya masih ada sebagian lagi yang masih hidup dan masih dapat berkembang biak lagi apabila antibiotika tersebut berhenti dikonsumsi bahkan kumannya bisa menjaid kebal terhadap antibiotika tersebut. Karena itu, antibiotika yang diberikan oleh dokter kepada anak Anda sebaiknya dihabiskan.
Langganan:
Postingan (Atom)